Beberapa Makanan yang Dapat Berpengaruh Pada Autoimun

Beberapa Makanan yang Dapat Berpengaruh Pada Autoimun

Beberapa Makanan yang Dapat Berpengaruh Pada AutoimunPenyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Apa pun yang kamu masukkan ke dalam tubuh atau diserap dari lingkungan berpengaruh sekitar 90-95 persen terhadap masalah autoimun. Sementara itu, gen hanya berkontribusi sekitar 5-10 persen dari risiko ini.

Normalnya, sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. Tidak mengherankan, karena 75 persen dari sistem kekebalan berada di lapisan usus. Untuk mencegah atau menyembuhkan diri dari gangguan autoimun, individu harus mengidentifikasi pemicunya, yang salah satunya berasal dari makanan.

Berhenti atau membatasi konsumsi makanan pemicu autoimun sangat membantu individu membalikkan atau mencegah kondisi tersebut jadi lebih parah. Dilansir dari laman idn poker android Berikut ini adalah beberapa makanan yang paling sering memicu autoimun. Segera batasi konsumsinya, ya!

1. Gula
5 Makanan yang Diam-diam Memicu Penyakit Autoimun, Batasi Konsumsinya

Gula dalam segala bentuknya, seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa dapat melemahkan kemampuan sel darah putih untuk menghancurkan patogen, seperti bakteri, virus, dan parasit lain. Hal ini berkontribusi dalam memicu terjadinya autoimun.

Oleh sebab itu, kita semua perlu membatasi konsumsi dan berhati-hati terhadap gula dalam makanan. Beberapa makanan yang tinggi gula adalah kue, minuman ringan, donat, jus, selai, dan kopi kekinian.

Menurut penelitian yang dilaporkan dalam American Journal of Clinical Nutrition, pelemahan ini dimulai dalam waktu setengah jam setelah makan gula dan berlangsung selama 5 jam. Setelah 2 jam, fungsi kekebalan tubuh berkurang sebanyak 50 persen.

2. Gluten
5 Makanan yang Diam-diam Memicu Penyakit Autoimun, Batasi Konsumsinya

Gluten adalah campuran amorf (bentuk tak beraturan) dari protein yang terkandung bersama pati dalam endosperma (dan juga tepung yang dibuat darinya) beberapa serealia, terutama gandum, gandum hitam, dan jelai. Sebenarnya, walau tidak memiliki masalah dengan gluten, kamu juga patut berhati-hati dan membatasi asupannya.

Sementara itu, penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa mengonsumsi gluten diduga bisa menyebabkan kebocoran usus. Gluten sendiri terdapat pada gandum dan olahannya.

3. Telur
5 Makanan yang Diam-diam Memicu Penyakit Autoimun, Batasi Konsumsinya

Telur adalah salah satu bahan makanan hewani yang dikonsumsi selain daging, ikan dan susu. Umumnya telur yang dikonsumsi berasal dari jenis-jenis burung, seperti ayam, bebek, dan angsa, akan tetapi telur-telur yang lebih kecil seperti telur ikan kadang juga digunakan sebagai campuran dalam hidangan.

Jika kamu sudah memiliki masalah autoimun atau curiga kamu memiliki alergi terhadap telur, coba berhentilah mengonsumsi makanan itu selama sebulan. Hal ini dapat membantu kamu mengidentifikasi apakah benar telur merupakan pemicu semua gejala yang kamu alami.

4. Makanan tinggi garam
5 Makanan yang Diam-diam Memicu Penyakit Autoimun, Batasi Konsumsinya

Makanan tinggi garam, seperti keripik dan makanan cepat saji dapat merusak respons kekebalan tubuh. Sebab zat tersebut dapat memicu peradangan jaringan dan meningkatkan risiko penyakit autoimun.

Dalam sebuah studi dari Journal of Laboratory and Clinical Medicine, laki-laki yang mengonsumsi 12 gram garam per hari memiliki sel darah putih bernama monosit yang lebih tinggi. Sementara itu, mereka memiliki protein antiinflamasi yang rendah. Kondisi tersebut adalah tanda bahwa sistem imun akan bereaksi secara berlebihan.

5. Makanan tinggi lemak omega-6
5 Makanan yang Diam-diam Memicu Penyakit Autoimun, Batasi Konsumsinya

Tubuh membutuhkan lemak omega-6 dan omega-3 agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, ketidakseimbangan asupan nutrisi ini, khususnya lemak omega-6 yang lebih tinggi, berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit dan kemungkinan disfungsi sistem imun.

Menurut penelitian dalam jurnal Nutrients, konsumsi omega-6 berlebihan mendorong respons protein penyebab inflamasi yang melemahkan sensitivitas imun. Sementara konsumsi omega-3 justru bisa meningkatkan fungsi kekebalan agar jadi lebih normal.

Karenanya, keseimbangan konsumsi lemak omega-3 dan omega-6 sangatlah penting. Beberapa makanan yang tinggi akan lemak omega-6 adalah minyak kanola, minyak bunga matahari, minyak jagung, dan minyak kedelai. Batasi konsumsinya, ya.