Penyebab Aspergillosis

Penyakit Aspergillosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur Aspergillus. Aspergilosis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekumpulan penyakit yang disebabkan oleh infeksi Aspergillus. Umumnya keadaan ini menyerang organ paru dan mencakup beberapa jenis penyakit. Misalnya allergic bronchopulmonary aspergillosis (ABPA), chronic necrotizing aspergillus pneumonia atau chronic necrotizing pneumonia aspergillosis (CPNA), aspergilloma, dan invasive aspergillosis.

Penyakit infeksi ini umumnya memengaruhi sistem pernapasan, namun juga dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti kulit, mata, atau otak. Jamur Aspergillus hidup di tanah, pohon, padi, daun kering, kompos, pendingin dan pemanas ruangan, atau tempat yang lembab. Infeksi jamur Aspergillus lebih sering terjadi pada orang dengan sistem imun yang lemah.

Penyebab Aspergillosis

Untuk memastikan diagnosis aspergilosis diperlukan evaluasi lengkap yang didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan.

Dalam kasus allergic bronchopulmonary aspergillosis (ABPA), berbagai penemuan berikut akan memperkuat diagnosis:

  • Asma
  • Eosinofilia (tingginya rasio eosinofil dalam darah)
  • Hasil skin test positif untuk Aspergillus fumigatus
  • Nilai IgE serum > 1000 IU/dL
  • Hasil tes positif untuk presipitat Aspergillus
  • Kultur sputum dan pemeriksaan Aspergillus radioallergosorbent assay tes yang positif

Pada kasus aspergilloma umumnya hasil laboratorium menunjukkan nilai normal, walaupun hasil tes presipitat Aspergillus biasanya positif. Di sisi lain, pemeriksaan pencitraan (misalnya rontgen thorax atau CT-scan) dapat menunjukkan adanya masa dalam rongga, umumnya pada lobus atas paru, yang dapat berubah posisi jika pasien terlentang-telungkup atau berbaring miring.

Pada kasus chronic necrotizing pneumonia aspergillosis (CPNA) dan invasive aspergillosis dapat ditemukan gambaran jamur pada pemeriksaan sampel dengan pewarnaan Gomori methenamine silver. Selain itu, hasil pemeriksaan kultur dari berbagai sampel (seperti sputum, biopsi jarum, dan bronchoalveolar lavage) umumnya positif.

Pada rontgen thoraks dapat ditemukan nodul dalam lesi berongga atau infiltrasi alveolar. Gambaran halo sign atau rongga berisi nodul dapat diamati pada pemeriksaan CT-scan.

Gejala Aspergillosis

Pada orang yang sehat dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, terhirupnya jamur Aspergillus tidak akan menimbulkan keluhan dan gejala. Namun, jika seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah atau memiliki faktor risiko yang telah disebutkan sebelumnya, terhirupnya Aspergillus akan menimbulkan keluhan dan gejala yang bervariasi.

Gejala dan keluhan yang muncul tergantung pada jenis organ atau jaringan tubuh yang diserang oleh jamur Aspergillus. Berikut gejala dan jenis-jenis aspergillosis yang sering terjadi:

Allergic bronchopulmonary aspergillosis (ABPA)

ABPA paling sering terjadi pada penderita asma atau cystic fibrosis. Kondisi ini merupakan reaksi alergi akibat paparan jamur Aspergillus. Keluhannya mirip dengan gejala asma, yaitu mengi, sulit bernapas, sesak napas, dan lemas.

Chronic pulmonary aspergillosis (CPA)

Jenis aspergillosis ini biasanya terjadi pada orang yang memiliki penyakit paru, seperti TBC, PPOK, atau sarkoidosis. CPA umumnya ditandai dengan penurunan berat badan, batuk atau batuk darah, kelelahan, serta sesak napas. Penderita CPA juga bisa mengalami aspergilloma, yaitu serat jamur yang tumbuh dan membentuk bola jamur.

Invasive pulmonary aspergillosis (IPA)

Invasive pulmonary aspergillosis atau IPA biasanya terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya pada penderita HIV, orang yang menjalani kemoterapi, atau orang yang mendapat transplantasi sumsung tulang.

IPA adalah jenis aspergillosis yang paling parah. Kondisi ini terjadi ketika infeksi menyebar ke kulit, ginjal paru-paru, otak, atau jantung. Gejala aspergillosis jenis ini tergantung pada organ yang terdampak. Namun, secara umum, gejalanya adalah sebagai berikut:

  • Demam dan menggigil
  • Batuk berdarah
  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Sakit kepala

Diagnosis Aspergillosis

Dokter akan menanyakan keluhan dan riwayat kesehatan pasien, kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mendengar suara napas pasien. Dengan cara tersebut, dokter dapat mendeteksi ada tidaknya gangguan pada saluran napas pasien.

Aspergillosis sulit didiagnosis, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan penyebabnya. Pemeriksaan penunjang itu meliputi:

  • Pemindaian dengan foto Rontgen atau CT scan, untuk melihat keberadaan bola jamur (aspergilloma), sekaligus melihat tanda infeksi di paru-paru
  • Tes dahak, untuk memeriksa keberadaan Aspergillus atau mikroorganisme lain yang bisa menyebabkan infeksi
  • Tes darah, untuk mengukur kadar antibodi di darah sebagai petunjuk terjadinya reaksi alergi dan untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi
  • Bronkoskopi, untuk memeriksa kondisi paru-paru sekaligus mengambil sampel jaringan (biopsi) untuk diteliti lebih lanjut

Pengobatan Aspergillosis

Pengobatan aspergillosis berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahan dan jenis aspergillosis yang diderita. Beberapa langkah pengobatan yang dapat dilakukan oleh dokter adalah:

  • Observasi, untuk memantau kondisi pasien dengan gejala yang ringan atau pada penderita aspergillosis yang mengalami aspergilloma di paru-paru
  • Pemberian obat antijamur, seperti voriconazole atau amphotericin B, khususnya untuk penderita IPA dan CPA
  • Pemberian obat kortikosteroid dan obat antijamur selama beberapa bulan, untuk mengatasi gejala-gejala ABPA
  • Pemberian obat kortikosteroid oral, untuk mencegah agar asma atau cystic fibrosis yang diderita pasien tidak bertambah parah
  • Operasi, untuk mengangkat aspergilloma dari dalam tubuh, khususnya saat aspergilloma menyebabkan perdarahan pada paru
  • Embolisasi, untuk menghentikan perdarahan yang disebabkan oleh aspergilloma

Komplikasi Aspergillosis

Jika tidak diobati atau terlambat ditangani, aspergillosis dapat menyebabkan komplikasi berupa:

  • Infeksi sistemik atau sepsis yang menyebar dengan cepat ke bagian tubuh lain, seperti otak, jantung, dan ginjal
  • Perdarahan parah di paru-paru, terutama pada penderita aspergilloma dan aspergillosis invasif
  • Atelektasis
  • Asma bisa menjadi lebih parah
  • Bronkiektasis dan fibrosis paru

Pencegahan Aspergillosis

Aspergillosis sulit dicegah karena jamur penyebab kondisi ini mudah terhirup. Namun, beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya aspergillosis, terutama bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah:

  • Hindari tempat yang rentan ditumbuhi jamur, seperti tempat galian tanah, tempat penyimpanan padi atau gandum, dan tumpukan kompos.
  • Gunakan masker dan pakaian yang tertutup saat beraktivitas di tempat yang berisiko terpapar jamur, seperti di kebun, sawah, atau hutan.
  • Gunakan sarung tangan ketika melakukan aktivitas yang mengharuskan Anda bersentuhan langsung dengan tanah, tinja, atau lumut.
  • Jangan menjemur pakaian basah di dalam rumah, terutama di kamar tidur.

Sumber : https://www.alodokter.com/aspergillosis