Penyebab Amebiasis

Amebiasis atau Amoebiasis adalah infeksi tubuh yang disebabkan oleh parasit, umumnya terjadi di hati atau usus besar. Parasit yang menyebabkan Amoebiasis terjadi adalah Entamoeba histolytica. Tubuh kita memiliki delapan jenis amoeba, namun hanya Entamoeba histolytica yang menyebabkan Amebiasis.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, CDC, menyebut diagnosis Amoebiasis sulit dilakukan karena parasit lain dapat terlihat sangat mirip dengan Entamoeba histolytica ketika dilihat di bawah mikroskop. Orang yang terinfeksi tidak akan selalu merasa sakit. Namun, Anda membutuhkan perawatan segera jika terinfeksi.

Infeksi parasit ini terjadi saat larva E. histolytica masuk ke dalam tubuh manusia lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi. Parasit ini juga dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit saat seseorang bersentuhan dengan tinja yang terkontaminasi oleh parasit tersebut.

Penyebab Amebiasis

Amebiasis terjadi ketika parasit E. histolytica masuk ke dalam tubuh dan menetap di dalam usus. Berikut adalah cara penularan E. histolytica:

  • Bepergian ke tempat-tampat yang memiliki kondisi kebersihan buruk.
  • Orang yang melakukan seks anal meningkatkan risiko terkena penyakit infeksi usus akibat parasit.
  • Orang-orang dengan sistem ketahanan tubuh lemah atau menderita penyakit kronis  lainnya.
  • Orang yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk, seperti penjara contohnya
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu dan kondisi kesehatan lainnya.

Biasanya, larva E. histolytica berada pada kondisi tidak aktif jika berada di air, tanah, pupuk, atau tinja penderita. Namun, begitu masuk ke dalam tubuh, larva E. histolytica akan menjadi aktif (trofozoit). Larva aktif akan berkembang biak di saluran pencernaan, kemudian bergerak dan menetap di dinding usus besar.

Seseorang yang sering bepergian ke negara tropis atau daerah yang memiliki banyak kasus Amebiasis berisiko terinfeksi parasit ini. Jika sudah terinfeksi E. histolytica, beberapa faktor berikut dapat membuat infeksi jadi semakin parah:

  • Kecanduan alkohol
  • Menggunakan obat kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama
  • Mengalami malnutrisi
  • Menderita kanker
  • Sedang hamil

Gejala Amebiasis

Gejala Amebiasis lebih spesifik daripada gejala umum adanya parasit dalam tubuh Anda. Beberapa di antaranya adalah feses cair, perut terasa kram, dan sakit perut. Namun, kebanyakan orang dengan penyakit ini tidak akan mengalami gejala signifikan.

Gejalanya biasanya muncul setelah 2-4 minggu infeksi, atau mungkin butuh beberapa bulan untuk mendeteksi penyakitnya. Gejala umum amoebasis termasuk :

  • Diare (10 hingga 12 kali per hari)
  • Diare disertai darah
  • Kram pada perut
  • Buang air besar yang kental
  • Gas dalam perut
  • Gejala yang umum seperti demam, sakit punggung, dan lelah.

Setelah zat aktif pada parasit yang disebut sebagai trofozit menembus dinding usus, mereka dapat memasuki aliran darah dan berpindah ke berbagai organ lain. Zat tersebut dapat berakhir di organ hati, jantung, paru-paru, otak, atau organ lainnya. Jika trofozit menyerang organ dalam, Anda berisiko mengalami:

  • Abses
  • Infeksi
  • Penyakit parah
  • Kematian

Jika parasit menyerang lapisan usus Anda, itu bisa menyebabkan disentri amoeba. Kondisi tersebut adalah bentuk Amebiasis yang lebih berbahaya. Disentri amoeba menunjukkan gejala tinja berair dan berdarah serta kram perut parah.

Dikutip dari Healthline, hati sering menjadi tujuan parasit saat berpindah tempat. Gejala penyakit hati amoeba termasuk demam dan nyeri di bagian kanan atas perut Anda.

Terdapat beberapa tanda dan gejala yang mungkin tidak disebutkan di atas. Jika Anda cemas terhadap satu gejala, silakan konsultasikan dengan dokter.

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala Amebiasis yang disebutkan di atas. Jika Amebiasis cepat didiagnosis dan ditangani, risiko terjadinya komplikasi bisa dicegah.

Segera periksakan diri ke dokter bila mengalami gejala Amebiasis yang parah, seperti diare yang berlangsung selama lebih dari 2 minggu, disentri, dan gejala dehidrasi.

Diagnosis Amebiasis

Untuk mendiagnosis Amebiasis, dokter akan menanyakan keluhan dan gejala yang dialami pasien, serta riwayat kunjungan ke daerah tertentu, riwayat kesehatan, dan bagaimana pola hidup pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik.

Diagnosis ambiasis dilakukan dengan cara wawancara, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemeriksaan sampel tinja di laboratorium untuk menemukan parasit E. histolytica.
  • Pemeriksaan darah untuk memeriksa kondisi terkait, seperti anemia.
  • Kolonoskopi untuk menilai kondisi usus besar dan banyaknya parasit yang ada dengan menggunakan alat khusus.
  • Pemeriksaan sampel jaringan hati (biopsi) di laboratorium yang dapat dilakukan bersamaan dengan kolonoskopi.
  • Pemindaian dengan menggunakan CT scan atau USG untuk melihat peradangan pada organ akibat infeksi.
  • Tes jarum yang umum dilakukan jika terdapat penumpukan nanah (abses) pada hati.

Pengobatan Amebiasis

Pengobatan Amebiasis bertujuan untuk membunuh parasit, mengurangi risiko penyebaran parasit ke bagian tubuh yang lain, serta mengatasi keluhan dan gejala. Pengobatan untuk Amebiasis meliputi:

Pemberian obat-obatan

Obat-obatan untuk menangani Amebiasis antara lain:

  • Obat antibiotik
    Antibiotik, seperti metronidazole atau tinidazole, digunakan untuk membunuh parasit di dalam tubuh. Obat ini biasa diberikan bersama antiparasit, seperti diloxanide furoate.
  • Obat antimual
    Obat antimual diberikan untuk meredakan mual yang sering terjadi pada penderita Amebiasis.

Penggantian cairan tubuh

Penderita Amebiasis disarankan untuk mengonsumsi banyak air putih dan oralit untuk mengganti cairan yang hilang akibat diare. Jika kondisi dehidrasi yang dialami cukup parah, maka pasien perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Operasi

Jika Amebiasis menimbulkan perforasi usus (pecahnya usus) atau kolitis parah (fulminant colitis), dokter akan melakukan operasi untuk mengangkat usus yang bermasalah. Selain itu, operasi juga bisa dilakukan untuk mengatasi abses hati yang tidak membaik setelah pemberian antibiotik.

Komplikasi Amebiasis

Amebiasis yang tidak ditangani dapat menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti:

  • Anemia akibat perdarahan usus, khususnya pada penderita yang mengalami radang usus (amebic colitis)
  • Sumbatan atau obstruksi pada usus akibat gumpalan jaringan pada usus (amoeboma)
  • Penyakit liver, misalnya abses hati amebic, yaitu pembentukan abses di jaringan hati
  • Sepsis, yaitu penyebaran infeksi parasit ke seluruh tubuh, termasuk otak

Pencegahan Amebiasis

Amebiasis bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

  • Terapkan kebiasaan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Lakukan terutama setelah buang air kecil atau buang air besar, sebelum dan sesudah makan atau mengolah makanan, serta sesudah mengganti popok bayi.
  • Cuci sayur atau buah sampai bersih dan kupas sebelum dikonsumsi.
  • Cuci peralatan masak sampai bersih sebelum digunakan.
  • Rebus air hingga mendidih sebelum diminum.
  • Konsumsi susu dan produk susu yang sudah melalui proses pasteurisasi.

Jangan berbagi penggunaan alat mandi, seperti handuk, sabun, atau sikat gigi, dengan orang lain.

Sumber : https://www.alodokter.com/amebiasis