Penyakit Bell’s Palsy

Penyakit Bell’s Palsy merupakan Kondisi lumpuhnya saraf wajah (saraf ketujuh atau saraf fasialis) akibat peradangan dan pembengkakan saraf yang mengontrol otot pada salah satu sisi wajah. Bell’s Palsy menyebabkan salah satu sisi wajah tampak melorot yang dapat muncul secara tiba-tiba, namun biasanya tidak bersifat permanen.

Banyak orang menganggap Bell’s Palsy sebagai stroke karena gejalanya serupa, yaitu kelumpuhan. Namun, kedua penyakit tersebut sebenarnya berbeda karena Gejala Bell’s Palsy hanya terbatas pada otot wajah dan sebagian besar penderita dapat pulih sepenuhnya dalam waktu 6 bulan.

Gejala Bell’s Palsy

Gejala Bell’s Palsy adalah kelumpuhan pada salah satu sisi wajah. Kelumpuhan tersebut ditunjukkan dengan perubahan bentuk wajah sehingga penderita sulit tersenyum dengan simetris atau menutup mata di sisi yang lumpuh.

Selain kelumpuhan pada satu sisi wajah, gejala yang juga dapat muncul antara lain adalah mata berair dan ngeces.

Bell’s Palsy ditandai dengan gejala berupa kelumpuhan pada salah satu sisi wajah yang muncul secara mendadak. Kelumpuhan ini berlangsung dalam 2 minggu hingga 6 bulan, dan biasanya tidak permanen. Kelumpuhan satu sisi wajah ini akan tampak dalam:

  • Perubahan bentuk wajah
  • Salah satu sisi wajah tampak melorot
  • Sulit tersenyum
  • Sulit menutup mata

Di samping perubahan bentuk wajah, gejala lain yang dapat dirasakan oleh penderita adalah:

  • Rasa nyeri di sekitar rahang dan belakang telinga pada sisi yang mengalami kelumpuhan
  • Pusing
  • Menurunnya kemampuan mengecap rasa
  • Mata berair
  • Kelopak mata berkedut
  • Ngeces
  • Telinga berdenging atau tinnitus
  • Lebih sensitif terhadap suara

Penyebab Bell’s Palsy

Penderita Bell’s Palsy akan mengalami peradangan pada saraf wajah, sehingga otot wajah menjadi lemah dan bentuk wajah menjadi berbeda. Kondisi ini diduga terkait dengan infeksi virus atau beberapa penyakit, seperti infeksi telinga bagian tengah dan penyakit diabetes.

Bell’s Palsy terjadi karena saraf yang mengendalikan otot wajah mengalami peradangan. Peradangan tersebut menyebabkan sarat terhimpit sebagian atau seluruhnya, sehingga otot yang tersambung dengan saraf juga berhenti bekerja. Kondisi inilah yang membuat otot wajah lumpuh.

Penyebab peradangan saraf belum dapat diketahui secara pasti, namun kondisi ini diduga terjadi karena infeksi virus. Virus yang diduga dapat menyebabkan peradangan saraf antara lain virus herpes simplex (menyebabkan penyakit kelamin) atau virus varicella zoster (menyebabkan cacar air).

Selain virus, ada beberapa penyakit yang diduga memicu Bell’s Palsy, yaitu infeksi telinga bagian tengah, sarkoidosis, tumor pada kelenjar ludah, hipertensi, atau diabetes.

Guna memastikan penyebabnya, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan dengan:

  • Elektromiografi (EMG)
    Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat aktivitas listrik pada saraf dan otot.
  • MRI dan CT scan
    Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kelainan pada otak.
  • Tes darah
    Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui adanya penyakit lain yang memicu terjadinya Bell’s Palsy.

Diagnosis Bell’s Palsy

Diagnosis dilakukan dokter dengan melakukan pemeriksan gerakan wajah penderita. Di samping pemeriksaan fisik, serangkaian pemeriksaan lanjutan akan dilakukan, seperti tes darah, elektromiografi, serta pemindaian dengan CT scan dan MRI untuk mengetahui penyebab kelumpuhan otot wajah.

Terapi Bell’s Palsy

Terapi Bell’s Palsy bertujuan untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah timbulnya komplikasi. Terapi tersebut dilakukan dengan cara mengonsumsi obat-obatan dari dokter dan fisioterapi.

Penanganan Bell’s Palsy biasanya dilakukan adalah pemberian obat berupa:

  • Obat kortikosteroid
    Obat kortikosteroid ini dapat meredakan peradangan saraf wajah. Kortikosteroid akan lebih efektif diberikan jika gejala Bell’s Palsy baru terjadi selama beberapa hari. Contoh obat kortikosteroid adalah   methylprednisolone.
  • Obat antivirus
    Obat antivirus ini diberikan untuk mengatasi infeksi virus yang juga terjadi. Contoh obat antivirus antara lain atau valacyclovir.
  • Obat pereda nyeri
    Untuk meredakan nyeri, dokter dapat memberi obat-obatan, seperti paracetamol atau ibuprofen.

Sumber : https://www.alodokter.com/bells-palsy