Penyakit Ataksia

Penyakit Ataksia merupakan gangguan gerakan tubuh yang disebabkan masalah pada otak. Bagi penderita ataksia, seseorang sulit menggerakkan tubuh seperti yang diinginkan atau anggota tubuh dapat bergerak di saat tidak diinginkan. Dengan kata lain, ataksia berarti juga gangguan saraf atau neurologis yang berpengaruh pada otak dan sistem keseimbangan dan koordinasi.

Kondisi ini akan membuat seseorang kesulitan untuk mengendalikan gerakan tubuhnya, baik saat berbicara, gerakan mata, kemampuan menelan, berjalan, mengambil benda, dan gerakan sadar lainnya. Banyak hal yang dapat menyebabkan kerusakan bagian otak yang mengatur koordinasi otot. Kondisi tersebut bisa berupa kecanduan alkohol, penyakit, faktor genetik, atau konsumsi obat tertentu.

Sejauh ini, ditemukan sekitar 100 jenis ataksia yang berbeda. Jenis-jenis tersebut dikelompokkan berdasarkan penyebab dan bagian tubuh yang terganggu. Penanganan ataksia bergantung dari penyebabnya dan bertujuan agar penderita dapat melakukan kegiatannya secara mandiri. Bentuk penanganan yang bisa dilakukan, antara lain pemberian obat, fisioterapi, dan terapi bicara.

Gejala Penyakit Ataksia

Gejala Penyakit Ataksia dapat berkembang perlahan atau menyerang secara tiba-tiba. Gejala umum ditunjukkan dengan gangguan saraf, yang meliputi:

  • Koordinasi gerak yang buruk.
  • Langkah kaki yang tidak stabil atau seperti mau jatuh.
  • Kesulitan mengendalikan motorik halus, seperti makan, menulis, atau mengancingkan baju.
  • Perubahan cara bicara.
  • Sulit menelan.
  • Nystagmus atau pergerakan bola mata yang tidak disengaja. Pergerakan mata ini dapat terjadi pada satu atau kedua mata yang bergerak ke samping (horizontal), atas-bawah (vertikal), atau memutar.
  • Gangguan dalam berpikir atau emosi.

Ataksia dapat terjadi pada beberapa area dalam sistem saraf pusat. Berdasarkan lokasi kerusakan, maka ataksia terbagi 3 jenis yaitu :

  • Ataksia serebelum (otak kecil). Kondisi ketika kerusakan terjadi pada serebelum atau otak kecil yang berperan dalam keseimbangan atau koordinasi. Untuk ataksia serebelum, gejalanya ditandai dengan adanya perubahan gaya berjalan, koordinasi tangan dan kaki, tremor, dan berbicara cadel.
  • Ataksia sensorik. Gangguan koordinasi akibat terdapatnya gangguan pada sistem somato sensorik (sistem saraf yang mengatur rasa getar/posisi). Koordinasi gerakan yang normal pada saat berjalan masih dapat dilakukan dengan mata terbuka, karena dengan bantuan penglihatan dapat membantu gerakan. Pada saat mata tertutup/ruangan gelap, individual pada ataksia sensorik tidak mengetahui dimana posisi anggota gerak, sehingga gaya berjalan tidak stabil (seperti berjalan pada bantal).
  • Ataksia vestibular. kerusakan yang terjadi pada sistem vestibular di telinga bagian dalam. Sistem vestibular sendiri berfungsi untuk mengatur gerakan kepala, keseimbangan tubuh, serta mempertahankan postur tubuh dalam sebuah ruang (spasial). Biasanya, gangguan sistem vestibular ditandai dengan rasa atau sensasi pusing berputar (vertigo).

Penyebab Ataksia

Ataksia terjadi karena adanya kerusakan atau degenerasi pada otak kecil (cerebellum) atau ataksia serebelum yang memiliki fungsi utama sebagai pengontrol keseimbangan, koordinasi otot, dan gerak tubuh. Beberapa penyebabnya sebagai berikut:

  • Kekurangan vitamin B1, B12, atau E.
  • Infeksi bakteri yang terjadi pada otak, misalnya meningitis.
  • Kecanduan alkohol atau penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA).
  • Hidrosefalus.
  • Kurangnya hormon tiroid dalam darah.
  • Kondisi yang menganggu asupan darah ke otak (stroke).

Pengobatan Ataksia

Penanganan ataksia dilakukan beradasarkan penyebabnya. Sebagai contoh, ataksia akibat defisiensi vitamin dapat diatasi dengan pemberian suplemen vitamin. Sementara itu, ataksia episodik dapat diatasi dengan obat acetazolamide dan menghindari faktor pemicu, seperti stres. Untuk ataksia yang diperoleh karena infeksi, dapat diatasi dengan pemberian obat antibiotik atau antivirus.

Untuk meringankan ganggguan yang dialami penderita ataksia, dokter dapat merekomendasikan:

  • Obat-obatan. Contohnya adalah baclofen dan tizanidine untuk kejang dan kram otot, obat sildenafil untuk disfungsi ereksi, suntik botulinum toxin untuk menghilangkan kram otot, obat pereda nyeri untuk nyeri saraf (ibuprofen, paracetamol), serta obat antidepresan untuk gangguan depresi.
  • Penanganan mandiri untuk mengatasi gangguan kandung kemih. Misalnya, membatasi asupan cairan, mengatur jadwal untuk berkemih secara teratur, serta menghindari minuman yang dapat meningkatkan produksi urine, seperti kafein atau alkohol.
  • Pemakaian kacamata dengan prisma, untuk penderita ataksia yang mengalami penglihatan ganda.

Untuk kasus ataksia yang disebabkan oleh multiple sclerosis atau cerebral palsy, belum dapat disembuhkan. Guna memudahkan penderita dalam melakukan kegiatan rutin, dokter dapat menganjurkan penggunaan alat bantu, seperti tongkat untuk berjalan, alat bantu komunikasi untuk berbicara, dan perlengkapan makan yang dimodifikasi.

Di samping mengatasi kondisi yang menyebabkan ataksia, dokter juga dapat melakukan terapi untuk membantu penderita agar bisa melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Contohnya adalah:

  • Terapi fisik, untuk membantu koordinasi dan meningkatkan keleluasan penderita dalam melakukan gerakan.
  • Terapi bicara, untuk meningkatkan kemampuan bicara dan menelan.
  • Terapi okupasi, untuk membantu penderita dalam melaksanakan kegiatan rutin, misalnya makan sendiri.

Selain terapi, konsultasi dengan konselor atau bergabung dalam support group juga dapat membantu penderita untuk menemukan motivasi dan pemahaman yang lebih baik dari kondisi ataksia yang dialami.

Sumber : https://www.alodokter.com/ataksia