Penyakit Ascariasis

Penyakit Ascariasis atau Askariasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides atau biasa disebut dengan cacing gelang. Cacing gelang adalah parasit yang menggunakan tubuh sebagai lokasi untuk berkembang dari larva atau telur menjadi cacing dewasa.

Ascariasis merupakan salah satu jenis infeksi cacing yang cukup sering ditemui. Sebagian besar orang yang terinfeksi bisa saja tidak mengalami keluhan atau hanya menunjukkan tanda dan gejala yang ringan.

Gejala Ascariasis

Ascariasis umumnya tidak menimbulkan gejala apa pun. Akan tetapi, sebagian orang yang terinfeksi cacing gelang mengalami sejumlah gejala, yang terbagi dalam dua tahapan, yaitu:

Gejala tahap awal

Tahap awal adalah fase ketika larva cacing berpindah dari usus ke paru-paru. Fase ini terjadi 4-16 hari setelah telur cacing masuk ke tubuh. Gejala yang muncul pada tahap ini, antara lain:

  • Demam tinggi
  • Batuk kering
  • Sesak napas
  • Mengi

Gejala tahap lanjut

Tahap ini terjadi ketika larva cacing berjalan ke tenggorokan dan kembali tertelan ke usus, serta berkembang biak. Fase ini berlangsung 6-8 minggu pasca telur masuk ke dalam tubuh. Pada umumnya gejala tahap ini meliputi sakit perut, diare, terdapat darah pada tinja, serta mual dan muntah.

Gejala di atas akan semakin memburuk bila jumlah cacing di dalam usus semakin banyak. Selain merasakan sejumlah gejala tersebut, penderita juga akan mengalami sakit perut hebat, berat badan turun tanpa sebab, dan terasa seperti ada benjolan di tenggorokan. Selain itu, cacing dapat keluar dari tubuh melalui muntah, saat buang air besar, atau melalui lubang hidung.

Penyebab Ascariasis

Ascariasis tidak ditularkan secara langsung dari satu orang ke orang lainnya. Seseorang umumnya terinfeksi setelah terdapat kontak dengan tanah yang tercampur feses manusia yang mengandung telur askariasis maupun dengan air yang terinfeksi.

Pada cukup banyak negara berkembang, feses manusia digunakan sebagai popok. Selain itu, pada area dengan sanitasi rendah, feses manusia juga dapat bercampur dengan tanah pada lapangan, ladang, atau selokan.

Selain itu, anak-anak juga dapat bermain di dekat tanah, dan infeksi juga dapat terjadi apabila mereka memasukkan tangan yang kotor ke dalam mulut. Buah dan sayuran yang belum dicuci dan tumbuh pada tanah yang terkontaminasi juga dapat menyebabkan transmisi dari telur askariasis.

Beberapa faktor risiko yang berkaitan dengan askariasis adalah:

  • Usia. Sebagian besar orang yang mengalami askariasis berusia 10 tahun atau kurang. Anak-anak pada kelompok usia ini dapat memiliki risiko yang lebih tinggi karena dinilai lebih sering terpapar tanah atau kotoran.
  • Cuaca yang hangat. Ascariasis lebih prevalen di negara-negara berkembang dengan cuaca yang hangat sepanjang tahun.
  • Sanitasi yang buruk. Ascariasis sering ditemui di negara berkembang yang memiliki area di mana feses dapat bercampur dengan tanah lokal.

Diagnosis Ascariasis

Untuk mendiagnosis ascariasis, dokter akan melakukan pemeriksaan feses atau tinja pasien. Pemeriksaan ini akan membantu dokter mengetahui ada atau tidaknya telur cacing pada tinja pasien. Meski demikian, telur cacing baru dapat terlihat pada tinja 40 hari setelah infeksi. Pada penderita yang hanya terinfeksi cacing jantan, telur cacing tidak akan ditemukan pada feses.

Dokter juga dapat menjalankan tes darah untuk melihat apakah ada kenaikan kadar eosinophil, salah satu jenis sel darah putih. Akan tetapi, tes darah tidak bisa memastikan infeksi ascariasis, karena kenaikan kadar eosinophil juga dapat disebabkan oleh kondisi medis lain.

Selain dua tes di atas, dokter juga dapat menjalankan tes pencitraan seperti:

  • Foto Rontgen. Melalui pemeriksaan foto Rontgen, dokter dapat mengetahui apakah ada cacing di usus. Rontgen juga dapat dilakukan guna melihat kemungkinan adanya larva di paru-paru.
  • USG. USG dapat menunjukkan pada dokter bila ada cacing di pankreas atau hati.
  • CT scan atau MRI. Dua metode pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah cacing menyumbat saluran hati atau pankreas.

Pengobatan Ascariasis

Pada sebagian kasus, ascariasis dapat sembuh dengan sendirinya. Meskipun demikian, disarankan Anda segera ke dokter bila mengalami gejala ascariasis. Dokter akan meresepkan obat cacing, seperti:

  • MebendazoleMebendazole diresepkan pada pasien usia 1 tahun ke atas, dengan dosis 2 kali sehari untuk 3 hari. Sejumlah efek samping yang dapat muncul akibat penggunaan obat ini meliputi diare, ruam kulit, dan sering buang angin.
  • PiperazinePiperazine diresepkan pada bayi usia 3-11 bulan, dengan 1 dosis tunggal. Efek samping obat ini antara lain sakit perut, diare, mual, muntah, dan kolik.
  • Albendazole. Obat ini dianjurkan untuk dikonsumsi 2 kali sehari. Sakit perut, mual, muntah, pusing, serta ruam kulit adalah beberapa efek samping yang dapat dialami setelah meminum albendazole.

Pada ascariasis berat, jumlah cacing di usus sampai menyebabkan usus dan saluran empedu tersumbat. Dalam kondisi tersebut, dokter akan menjalankan operasi, untuk membuang cacing dari dalam usus, dan memperbaiki kerusakan usus pasien.

Pencegahan Ascariasis

Cara yang baik untuk mencegah terinfeksi askariasis adalah menerapkan higienitas yang baik. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • Menjaga sanitasi. Sebelum menyentuh makanan, biasakan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan air. Cuci buah dan sayuran dengan saksama sebelum dikonsumsi.
  • Menjaga kebersihan saat bepergian. Gunakan hanya air kemasan, dan hindari sayuran mentah kecuali bila dapat dikupas dan dicuci sendiri. Usahakan untuk hanya mengonsumsi makanan yang hangat dan matang.