Penyakit Angioedema

Penyakit Angioedema adalah penyakit yang berhubungan dengan bengkak yang mengenai pada lapisan dalam dari kulit di beberapa bagian tubuh terutama bagian wajah dan bibir. Kondisi ini biasanya tidak berbahaya. Namun demikian, pada kasus yang jarang, angioedema dapat menyebabkan penderitanya sulit bernapas, karena pembengkakan terjadi di saluran pernapasan.

Pada beberapa kasus, penderita angioedema juga mengalami urtikaria atau biduran. Kedua kondisi tersebut terlihat sama. Bedanya, pembengkakan pada angioedema terjadi di lapisan bawah kulit. Sedangkan bengkak pada biduran terjadi di permukaan kulit.

Gejala Angioedema

Gejala utama pada penderita angioedema adalah bengkak di bawah permukaan kulit. Pembengkakan ini disebabkan penumpukan cairan di lapisan kulit bagian dalam, serta dapat terjadi pada beberapa bagian tubuh seperti area sekitar mata, bibir, lidah, tangan, kaki dan kelamin. Pada kasus yang parah, bengkak juga dapat terjadi di bagian dalam tenggorokan dan perut.

Pembengkakan akibat angioedema biasanya tidak menimbulkan gatal. Namun pada idiopathic angioedema dan allergic angioedema, bengkak dapat disertai biduran atau urtikaria, yang terasa gatal.

Sejumlah gejala lain yang dapat terjadi, antara lain:

  • Sensasi panas dan nyeri, di area yang mengalami pembengkakan.
  • Sesak napas, akibat pembengkakan di tenggorokan dan paru-paru.
  • Mata merah, akibat pembengkakan di konjungtiva (selaput bening yang melapisi bagian depan mata).

Pada seseorang yang menderita angioedema akibat keturunan, gejala lain yang dapat muncul adalah:

  • Sulit berkemih, akibat pembengkakan di kandung kemih atau saluran lubang kencing (uretra).
  • Sakit perut, akibat pembengkakan di lambung dan usus. Kondisi ini dapat memicu diare, mual, dan muntah.

Segera ke dokter bila Anda mengalami gejala reaksi alergi berat (anafilaksis), seperti bengkak di lidah dan tenggorokan yang mengakibatkan keluhan suara serak, mengi hingga sesak napas.

Penyebab Angioedema

Penyakit angioedema dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  • Makanan. Banyak makanan yang dapat memicu reaksi angioedema, terutama pada pasien yang alergi atau terlalu sensitif pada beberapa jenis makanan. Makanan yang paling sering menyebabkan alergi yaitu, makanan laut, kacang, telur, dan produk susu.
  • Obat-obatan. Hampir semua obat-obatan dapat menyebabkan reaksi angioedema, terutama pada orang yang sensitif terhadap satu macam obat tertentu. Beberapa obat yang sering menyebabkan penyakit angioedema yaitu penisilin, aspirin, ibuprofen, naproxen, dan obat-obatan penurun tekanan darah.
  • Alergen umum. Beberapa zat secara umum dapat menyebabkan angioedema antara lain serbuk sari, rambut/bulu hewan, lateks dan sengatan serangga.
  • Faktor lingkungan. Sebagai contoh panas, dingin, sinar matahari, air, tekanan pada kulit, atau bahkan stres emosional dapat menyebabkan penyakit angioedema.
  • Kondisi medis lain yang mendasari. Angioedema dapat terjadi karena respon tubuh terhadap transfusi darah, kelainan sistem imun seperti lupus, beberapa tipe kanker, penyakit tiroid, dan infeksi bakteri atau virus.
  • Genetik. Angioedema yang bersifat herediter sangat jarang terjadi. Hal ini berhubungan dengan gangguan fungsi protein plasma dalam tubuh yang berfungsi dalam sistem imun.

Faktor Risiko Angioedema

Angioedema dapat terjadi pada siapa saja. Meskipun demikian, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terserang angioedema, antara lain:

  • Stres atau gelisah.
  • Perubahan temperatur yang tiba-tiba.
  • Riwayat angioedema pada diri sendiri atau keluarga.
  • Memiliki alergi, misalnya pada makanan atau obat.
  • Menderita kondisi medis yang berhubungan dengan angioedema, seperti lupus, limfoma, dan penyakit tiroid.

Pencegahan Angioedema

Untuk menurunkan kemungkinan terkena angioedema, langkah pencegahan beritku dapat dilakukan:

  • Menghindari pencetus yang telah diketahui. Termasuk makanan, obat-obatan, dan beberapa keadaan yang dapat mencetuskan angioedema seperti stres emosi, atau bentuk perubahan fisik lainnya.
  • Mencatat daftar makanan. Jika dicurigai memiliki alergi makanan yang memicu penyakit angioedema tetapi masih tidak tahu makanan apa yang dapat mencetuskan, cobalah untuk mencatat setiap bahan yang dimakan sehari-hari kemudian lakukan evaluasi mana makanan yang dapat menyebabkan angioedema.

Pengobatan Angioedema

Angioedema yang menimbulkan gejala ringan, cukup ditangani dengan penanganan mandiri di rumah. Beberapa langkah penanganan untuk membantu meredakan gejala, di antaranya:

  • Obat-obatan anti gatal, seperti golongan antihistamin.
  • Anti inflamasi, terutama pada kasus angioedema yang parah.
  • Penurun sistem imun, apabila antihistamin dan anti inflamasi tidak dapat meredakan keluhan dokter dapat meresepkan obat penurun sistem imun untuk meredakan sistem imun yang terlalu reaktif.
  • Obat untuk menurunkan nyeri dan bengkak. Seperti anti-inflamasi non-steroid yaitu antagonis leukotrien.

Penanganan allergic angioedema dan idiopathic angioedema menggunakan metode yang sama. Salah satunya adalah dengan menghindari makanan pemicu alergi. Dokter juga akan meresepkan tablet antihistamin dan kortikosteroid untuk meredakan bengkak. Bila bengkak berlangsung hingga beberapa hari, dokter akan memberi suntik kortikosteroid. Sedangkan untuk pasien yang mengalami gejala anafilaksis (reaksi alergi berat yang mengancam nyawa), dokter akan memberikan suntikan adrenalin atau epinephrine.

Pada pasien drug-induced angioedema, dokter akan menyarankan jenis obat lain, untuk mengganti obat yang memicu gejala. Penanganan dengan obat-obatan juga digunakan pada pasien angioedema, untuk mencegah dan menangani bengkak. Obat pencegah bengkak yang lazim digunakan antara lain danazol dan asam traneksamat. Sedangkan untuk menangani bengkak, dokter dapat meresepkan obat pengganti penghambat C1 estarase. Obat tersebut akan diberikan dalam bentuk suntik, untuk meningkatkan kadar protein C1 estarase dalam darah.

Sumber : https://www.alodokter.com/angioedema