Jenis Benjolan Payudara

Benjolan Payudara adalah jaringan lain yang tumbuh di dalam payudara. Tekstur benjolan tersebut tergantung pada jenisnya. Sebagai contoh, ada benjolan yang teraba padat, atau berisi cairan.

Meskipun sebagian besar benjolan payudara bersifat jinak (non-kanker), akan tetapi benjolan juga bisa merupakan suatu tanda kanker payudara. Oleh karena itu, sangat penting untuk segera memeriksakan diri, bila Anda menyadari ada benjolan yang tumbuh di payudara.

Artikel ini akan lebih fokus membahas benjolan payudara yang termasuk tumor jinak atau tidak bersifat kanker.

Penyebab Benjolan Payudara

Benjolan pada payudara tidak hanya disebabkan oleh kanker. Dilansir dari National Health Services UK, wanita harus waspada jika benjolan payudara muncul bersamaan dengan munculnya benjolan di ketiak atau ketika ada perubahan lain yang tidak biasa pada payudara. Jika bukan kanker, maka hal ini dapat menyebabkan benjolan pada payudara, antara lain:

Fibrokistik payudara

Fibrokistik payudara adalah pertumbuhan jaringan fibrosa yang abnormal, sehingga lebih menonjol dibanding jaringan lemak. Jaringan fibrosa merupakan jaringan penyusun ligamen, yaitu jaringan yang menghubungkan antar tulang. Jaringan fibrosa juga membentuk jaringan parut dan jaringan ikat. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, namun biasanya menimpa wanita dalam rentang usia 30-50 tahun.

Akibat kondisi ini, benjolan yang terasa bisa lebih dari satu, dan terkadang dari puting keluar sedikit cairan berwarna keruh. Keadaan ini umum dialami oleh wanita usia produktif dan bisa terjadi di salah satu payudara atau keduanya.

Kista

Benjolan di payudara akibat kista umumnya adalah kantung yang berisi cairan. Adanya kista biasanya akan terdeteksi ketika ukurannya sudah membesar atau disebut (kista makro), yang mana ukurannya bisa mencapai 2,5-5 sentimeter. Pada tahap ini, maka benjolan di payudara sudah bisa dirasakan jika diraba.

Sama halnya dengan kelainan fibrokistik, kista juga bisa membesar dan menjadi lunak saat mendekati masa menstruasi.

Fibroadenoma

Fibroadenoma merupakan tumor jinak pada payudara yang paling sering terjadi pada wanita dalam rentang usia 20-30 tahun. Fibroadenoma terbentuk dari jaringan payudara dan jaringan ikat, serta dapat terjadi pada satu atau kedua payudara.

Fibroadenoma terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama yaitu simple fibroadenoma, yang tidak bersifat kanker. Sedangkan jenis kedua adalah complex fibroadenoma, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Jika dianggap berbahaya, biasanya akan disarankan operasi.

Fibroadenoma tidak berkembang menjadi kanker, dan sama seperti fibrosis serta kista.

Papiloma intraduktal

Tumor jinak ini juga tidak berpotensi kanker dan keberadaannya terbentuk pada kelenjar susu. Biasanya, intraductal papilloma bisa diraba berupa satu benjolan cukup besar yang terletak dekat dengan puting, atau bisa juga berbentuk beberapa benjolan kecil yang terletak jauh dari puting.

Ukuran dari benjolan tumor ini sekitar antara 1-2 sentimeter. Tumor ini terbentuk dari kelenjar, sel fibrosis, dan pembuluh darah. Kondisi ini sering terjadi pada mereka yang berusia 35 hingga 55 tahun. Jika intraductal papilloma terdiri hanya dari satu benjolan saja dan berada dekat dengan puting, maka kondisi ini bukan faktor risiko peningkatan kanker payudara.

Mastitis

Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara, yang kadang disertai infeksi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan terbentuknya abses (kumpulan nanah) pada jaringan payudara. Pada kasus yang parah, mastitis akan berakibat fatal bila tidak segera ditangani. Walaupun umumnya menimpa ibu menyusui, mastitis juga dapat dialami wanita secara umum, bahkan juga pria.

Mastitis disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam lapisan kulit, kemudian menginfeksi jaringan payudara. Selain oleh infeksi bakteri, mastitis juga dapat disebabkan oleh penyumbatan di duktus, saluran yang membawa ASI dari kelenjar payudara ke puting. Penyumbatan akan membuat ASI mengendap di dalam payudara, lalu memicu peradangan yang berujung infeksi.

Lipoma

Lipoma adalah benjolan lemak yang tumbuh secara perlahan di bawah kulit. Benjolan ini dapat tumbuh di bagian tubuh mana pun seperti leher, bahu, punggung, perut, termasuk payudara. Lipoma termasuk tumor jinak dan tidak berbahaya, tetapi bisa dibuang bila ukurannya cukup besar dan mengganggu.

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan lipoma. Namun demikian, kondisi ini cenderung terjadi pada seseorang dari keluarga yang memiliki riwayat lipoma. Meskipun dapat dialami oleh orang dari segala usia, lipoma lebih sering menimpa orang berusia 40-60 tahun.

Nekrosis lemak

Nekrosis lemak adalah kerusakan kelenjar lemak di payudara, yang umumnya terjadi akibat cedera. Kondisi ini juga bisa terjadi setelah menjalani operasi atau terapi radiasi pada payudara.

Nekrosis dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain efek samping radioterapi atau prosedur bedah. Beberapa metode bedah payudara yang dimaksud adalah lumpektomi, mastektomi, rekontruksi payudara, pengecilan payudara, dan biopsi payudara.

Gejala Benjolan Payudara

Benjolan payudara dapat bervariasi dalam ukuran dan teksturnya, tergantung pada jenis benjolannya. Beberapa karakteristik benjolan yang dapat muncul, antara lain:

  • Benjolan berukuran kurang atau lebih dari 5 sentimeter, tetapi dapat makin membesar.
  • Benjolan membesar sebelum menstruasi dan kembali ke ukuran semula setelah menstruasi selesai.
  • Benjolan teraba lunak, kenyal, atau padat.
  • Benjolan timbul tunggal atau banyak, di satu atau kedua payudara.
  • Bentuk benjolan bulat atau lonjong, dapat digerakkan atau terfiksasi.
  • Demam.
  • Payudara membengkak.
  • Payudara teraba keras.
  • Payudara terasa keras dan hangat bila disentuh.
  • Perubahan bentuk pada kedua payudara.
  • Puting mengeluarkan cairan yang dapat terlihat bening atau keruh.
  • Puting terasa gatal atau sensitif.

Sedangkan gejala benjolan payudara yang yang mengarah pada keganasan dan perlu diwaspadai, sehingga harus segera diperiksakan ke dokter, antara lain:

  • Benjolan tidak hilang setelah mestruasi, atau lebih dari 4 atau 6 minggu.
  • Muncul benjolan baru.
  • Benjolan membesar.
  • Benjolan teraba padat dan tidak bergeser bila digerakkan.
  • Puting mengeluarkan darah.
  • Kulit payudara memerah, mengeras, atau mengkerut seperti kulit jeruk.
  • Payudara memar tanpa sebab yang jelas.
  • Puting yang masuk ke dalam atau posisinya tidak normal.
  • Muncul benjolan di ketiak.

Diagnosis Benjolan Payudara

Sebagai langkah awal diagnosis, dokter akan bertanya mengenai gejala yang dialami dan kapan benjolan mulai muncul. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan meraba payudara pasien. Pemeriksaan fisik dapat membantu dokter memastikan lokasi benjolan, sehingga bila dilakukan pemeriksaan penunjang, dokter dapat fokus pada area tersebut. Meskipun demikian, agar dipastikan benjolan pada pasien bukan kanker, dokter akan menjalankan pemeriksaan penunjang, seperti:

Mammografi

Mammografi adalah foto Rontgen pada payudara. Pada pemeriksaan ini, payudara pasien akan ditekan, agar gambar jaringan payudara dapat terlihat lebih jelas. Melalui mammografi, sejumlah kelainan pada payudara dapat terlihat, misalnya tumor, penumpukan kalsium, atau jaringan yang padat di payudara.

Ultrasonografi

Ultrasonografi (USG) adalah pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara, untuk menghasilkan gambar. USG payudara sangat berguna dalam memeriksa benjolan payudara, terutama dalam membedakan benjolan padat dan benjolan yang berisi cairan.

MRI

MRI menggunakan medan magnet dan gelombang suara untuk menampilkan gambar bagian dalam tubuh. MRI digunakan untuk memeriksa dengan lebih teliti benjolan yang dirasakan saat pemeriksaan fisik, namun tidak terlihat pada mammografi atau USG.

Duktografi

Duktografi atau galaktografi, adalah prosedur pengambilan gambar kelenjar payudara dengan mesin foto Rontgen, untuk membantu dokter mengetahui penyebab keluarnya cairan dari puting. Prosedur ini didahului pemberian suntikan kontras ke puting.

Biopsi

Biopsi adalah prosedur pengambilan sampel benjolan atau seluruh benjolan, untuk diperiksa di laboratorium. Beberapa metode biopsi payudara adalah:

  • Aspirasi jarum halus (fine-needle aspiration biopsy)
  • Biopsi bedah (surgical biopsy)
  • Biopsi dengan bantuan vakum (vacum-asssisted biopsy)
  • Biopsi jarum inti (core needle biopsy)

Pengobatan Benjolan Payudara

Pada banyak kasus, benjolan payudara jinak tidak perlu ditangani karena tidak berbahaya dan mengganggu. Bahkan pada beberapa kasus, benjolan dapat menghilang dengan sendirinya. Tindakan medis baru akan diambil bila benjolan makin besar atau menimbulkan nyeri hebat.

Prosedur untuk menangani benjolan payudara tergantung pada jenis benjolannya, antara lain:

Lumpektomi

Lumpektomi dimulai dengan memberi bius lokal pada pasien. Setelah bius bekerja, dokter akan membuat irisan di sekitar area tumor, kemudian mengangkat tumor dan sedikit jaringan di sekitarnya. Prosedur ini biasanya dilakukan pada wanita dengan satu benjolan dengan diameter kurang dari 5 sentimeter.

Krioterapi

Krioterapi atau terapi beku bertujuan untuk menghancurkan sel abnormal dengan cara dibekukan. Pada prosedur ini, jarum khusus akan dimasukkan langsung ke area tumor. Kemudian, dokter akan menyuntikkan nitrogen cair untuk membekukan tumor.

Aspirasi jarum halus

Aspirasi jarum halus adalah prosedur pengeluaran cairan dari benjolan payudara dengan menggunakan jarum khusus. Prosedur ini dilakukan dengan bantuan USG, agar penempatan jarum tepat pada benjolan.

Selain dengan metode di atas, dokter juga dapat meresepkan obat-obatan, misalnya pil KB untuk menurunkan kadar hormon estrogen. Dalam kasus mastitis, dokter dapat meresepkan antibiotik dan obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Bila sedang menyusui, tidak perlu berhenti menyusui, karena tetap aman untuk bayi dan justru dapat membantu penyembuhan.

Bila benjolan pada payudara merupakan kanker payudara, dokter dapat melakukan sejumlah prosedur seperti bedah, radioterapi, kemoterapi, atau terapi hormon. Pada beberapa kasus, dokter dapat mengombinasikan 1-2 metode pengobatan di atas, tergantung pada ukuran dan stadium kanker, serta usia dan kondisi kesehatan pasien.

Pencegahan Benjolan Payudara

Kebanyakan benjolan payudara tidak dapat dicegah, karena terjadi akibat perubahan hormon yang tidak dapat dikontrol. Walaupun demikian, sangat penting bagi wanita untuk memahami payudaranya, sehingga lebih mudah menyadari bila ada perubahan pada organ tubuhnya tersebut.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengenali payudara sendiri adalah dengan melakukan SADARI (periksa payudara sendiri). Dengan melakukan SADARI, pasien bisa mendeteksi adanya benjolan sejak dini.

SADARI dilakukan satu bulan sekali, pada 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi, dengan cara berikut ini:

  • Berdiri di depan cermin dan amati jika terdapat perubahan pada bentuk, ukuran, warna kulit, serta permukaan kulit payudara.
  • Umumnya bentuk payudara kanan dan kiri memang tidak simetris, sehingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
    Angkat kedua tangan ke atas, lalu tekuk siku dan posisikan tangan di belakang kepala (tengkuk). Dorong siku ke depan dan ke belakang sambil mengamati bentuk dan ukuran payudara.
  • Raba payudara menggunakan tiga jari (telunjuk, tengah, manis) yang dirapatkan, lalu dengan tekanan lembut, lakukan gerakan memutar mulai dari sisi luar payudara hingga ke dalam dan menyentuh puting. Rasakan dengan baik jika terdapat penebalan atau benjolan.
  • Saat mandi, posisikan tangan kanan di belakang kepala. Kemudian setelah disabuni, periksa payudara kanan dengan tangan kiri dengan gerakan melingkar, dari puting ke sisi luar payudara. Lakukan langkah yang sama pada payudara kiri.
  • Saat berbaring, letakkan tangan kiri di bawah kepala. Kemudian, periksa payudara kiri dengan tangan kanan. Lakukan hal yang sama pada payudara kanan.
  • Pencet kedua puting dan amati apakah ada cairan tidak normal keluar dari puting.

Selain SADARI, langkah pencegahan lain adalah SADANIS (pemeriksaan payudara klinis), yang dilakukan oleh tenaga medis terlatih. Setiap wanita disarankan menjalani SADANIS secara berkala, guna menemukan benjolan atau tanda abnormal lain pada payudara sedini mungkin.

Sumber : https://www.alodokter.com/benjolan-payudara