Inilah Penyakit yang Bisa Membuat Manusia Meninggal Mendadak

Inilah Penyakit yang Bisa Membuat Manusia Meninggal Mendadak

Inilah Penyakit yang Bisa Membuat Manusia Meninggal Mendadak – Kesehatan adalah kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap dan bukan sekadar tidak adanya penyakit atau kelemahan. Mempunyai tubuh yang sehat sangatlah penting karena itu adalah salah satu faktor penting dalam mendukung kualitas hidup seseorang. Inilah kenapa kesehatan tubuh harus dijaga dengan cara mengontrol asupan makanan, rajin olahraga, dan istirahat cukup.

Kematian mendadak merupakan salah satu komplikasi berbahaya dari penyakit epilepsi. Kematian ini dikenal dengan istilah sudden unexpected death in epilepsy (SUDEP). Mekanisme yang terjadi diduga akibat serangan jantung dan sesak napas yang dipicu oleh kejang. Menjaga kesehatan tubuh juga dapat mencegah berbagai penyakit, termasuk penyakit berbahaya.

Perlu kamu ketahui, ada beberapa penyakit yang bisa bila tidak segera mendapat penanganan menyebabkan kematian secara mendadak.

Di bawah ini akan dibahas beberapa penyakit yang awalnya tidak menunjukkan gejala signifikan, Dilansir dari Download IDNPlay tetapi bisa berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan baik. Inilah daftar penyakit yang bisa menyebabkan penderitanya meninggal mendadak yang tentunya patut kita waspadai bersama.

1. Aritmia dan henti jantung mendadak

Aritmia adalah kondisi nadi jantung berdenyut tidak normal misalnya terlalu cepat, terlalu lambat, atau berdenyut dengan irama yang tidak beraturan.

Lebih lanjut, kondisi henti jantung mendadak lebih banyak dialami oleh orang laki-laki dibandingkan orang perempuan, terutama di usia 30 hingga 40 tahunan.

Seseorang yang memiliki kondisi berikut ini lebih berisiko mengalami henti jantung mendadak:

  • Pernah mengalami serangan jantung. Seseorang yang baru saja mengalami serangan jantung rentan terhadap henti jantung mendadak, terutama selama 6 bulan setelah serangan jantung
  • Sesaat setelah serangan jantung, pernah mengalami kondisi ventrikel takikardi (bilik jantung berdetak terlalu cepat), atau ventrikel fibrilasi (jantung berdetak dengan arus listrik yang terlalu cepat dan tidak beraturan)
  • Memiliki penyakit jantung koroner, termasuk riwayat kesehatan seperti aktif merokok, jantung yang membesar, dan kolesterol tinggi
  • Memiliki anggota keluarga yang mempunyai masalah dengan kesehatan jantung. Contohnya sindrom Wolf-Parkinson-White, henti jantung mendadak, dan blok jantung
  • Sering pingsan dengan alasan yang tidak jelas
  • Memiliki riwayat kelainan di pembuluh darah dan memiliki penyakit jantung bawaan
  • Obesitas dan diabetes
  • Memiliki kondisi kardiomiopati (otot jantung tidak elastis dan kaku)
  • Menggunakan obat terlarang seperti narkotika

Pencegahan dapat dilakukan dengan:

  • Melakukan tes kesehatan jantung secara rutin setiap tahunnya
  • Rajin berolahraga dan menerapkan pola makan rendah lemak
  • Tidak merokok
  • Menurunkan berat badan terutama bila memiliki berat badan melebihi batas normal
  • Apabila memiliki penyakit diabetes, pastikan gula darah terkontrol
  • Apabila memiliki riwayat penyakit jantung, rutin berkonsultasi dengan dokter untuk memonitor kesehatan jantung
2. Hematoma intrakranial

Hematoma intrakranial adalah pendarahan yang terjadi di dalam tengkorak karena pecahnya pembuluh darah di dalam kepala. Pembuluh darah ini pecah karena cedera, misalnya jatuh atau mengalami kecelakaan.

Dilansir Healthline, gejala dari hematoma intrakranial antara lain:

  • Mengalami sakit kepala yang parah secara tiba-tiba
  • Sakit kepala yang berkaitan dengan insiden kecelakaan atau cedera
  • Sakit kepala ringan tetapi tidak kunjung sembuh
  • Sakit kepala yang disertai dengan leher terasa kaku atau kencang
  • Mudah lelah dan mengantuk
  • Merasa bingung
  • Muntah lebih dari dua kali dalam durasi 24 jam
  • Kejang
  • Mengalami koma atau tidak sadarkan diri

Hematoma intrakranial juga dapat terjadi pada anak-anak akibat dari guncangan yang keras dan pernah jatuh. Gejala yang muncul pada anak-anak mirip dengan gejala pada orang dewasa, dengan tambahan di bagian kepala anak terlihat bengkak, mengalami patah tulang di bagian lengan dan kaki, pendarahan di retina, dan tidak sadarkan diri.

Untuk mencegah hematoma intrakranial, dianjurkan untuk mengenakan helm saat mengendarai sepeda, sepeda motor, skateboard, atau skuter. Lalu, jangan lupa kenakan sabuk pengaman saat berkendara dengan mobil. Anak-anak yang pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga sangat disarankan untuk diperiksakan ke dokter guna memastikan tidak ada cedera di otak dan kepala.

3. Hematoma subdural

Hematoma subdural adalah pendarahan yang terjadi di antara lapisan dura dan selaput arachnoid. Lapisan dura adalah lapisan terluar di selaput mening yang melindungi otak dan tulang belakang.

Dilansir WebMD, gejala hematoma yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Awalnya terlihat baik-baik saja setelah cedera, tetapi beberapa hari atau minggu kemudian orang tersebut merasakan kebingungan dan dapat tidak sadarkan diri
  • Sesaat setelah cedera, orang tersebut langsung tidak sadarkan diri dan bahkan mengalami koma
  • Sekadar informasi, gejala seperti kebingungan, pusing, kejang, dan muntah dapat muncul 2 minggu setelah insiden cedera

Pencegahan dapat dilakukan dengan secara ketat memantau lansia agar tidak jatuh, mengawasi anak di rumah, menggunakan protokol keselamatan seperti sabuk pengaman dan helm saat berkendara atau melakukan aktivitas yang memiliki risiko jatuh atau cedera.