Gejala Alergi Obat dan Pencegahannya

Alergi Obat adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh (sistem imun) terhadap suatu obat yang digunakan. Reaksi ini muncul karena sistem kekebalan tubuh menganggap zat dalam obat tersebut sebagai bahan yang dapat membahayakan tubuh.

Perlu diketahui, Alergi Obat berbeda dengan efek samping obat yang biasanya tercantum pada kemasan, maupun keracunan obat akibat overdosis. Alergi Obat bisa terjadi pada siapapun, baik anak-anak hingga orang dewasa.

Gejala Alergi Obat

Gejala dan tanda dari Alergi Obat bisa muncul 1 jam atau beberapa hari setelah penggunaan obat. Pelepasan histamin saat mengalami Alergi Obat akan memunculkan beragam gejala, seperti:

  • Ruam atau bentol-bentol di kulit.
  • Gatal-gatal di kulit.
  • Mata terasa gatal atau berair.
  • Hidung meler dan tersumbat.
  • Pembengkakan pada bibir, lidah, dan wajah.
  • Mengi atau saat bernapas berbunyi seperti siulan.
  • Sesak napas.
  • Demam.
  • Alergi Obat juga bisa menimbulkan gejala yang serius dan membahayakan penderitanya. Kondisi ini sering disebut sebagai reaksi anafilaksis.

Kapan harus ke dokter

Hentikan penggunaan obat dan segera ke dokter atau IGD rumah sakit jika mengalami gejala alergi seperti yang disebutkan di atas setelah mengonsumsi obat.

Reaksi Alergi Obat yang parah dapat berakibat fatal karena bisa menyebabkan gangguan pada fungsi organ-organ tubuh yang penting, sehingga dibutuhkan penanganan secepat mungkin.

Penyebab Alergi Obat

Alergi obat disebabkan sistem kekebalan tubuh salah mengidentifikasi suatu obat sebagai zat yang membahayakan tubuh. Akibatnya, tubuh akan membuat antibodi dan menyebabkan alergi obat.

Faktor risiko Alergi Obat

Tidak semua orang akan mengalami reaksi Alergi Obat. Diduga ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami Alergi Obat, yaitu:

  • Menderita alergi jenis lain, misalnya rhinitis alergi atau alergi terhadap makanan.
  • Memiliki anggota keluarga yang alergi terhadap obat tertentu.
  • Menderita penyakit yang sering dikaitkan dengan munculnya reaksi alergi, seperti infeksi HIV dan virus Epstein Barr.

Diagnosis Alergi Obat

Dokter akan melakukan tanya jawab seputar keluhan dan gejala yang dialami pasien, riwayat penggunaan obat sebelumnya, riwayat alergi, dan riwayat kesehatan pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik.

Jika dibutuhkan, dokter akan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui secara lebih spesifik jenis bahan yang menimbulkan reaksi alergi pada pasien. Pemeriksaan tersebut dapat berupa:

  • Tes kulit (skin test)
    Tes kulit untuk alergi menggunakan sampel obat-obatan yang dicurigai memicu reaksi alergi. Zat dalam obat-obatan itu akan dipaparkan ke kulit dengan cara ditempelkan atau melalui tusukan jarum. Pasien dinyatakan positif alergi bila kulit memerah, gatal, atau muncul bentol.
  • Tes darah
    Tes ini berfungsi untuk mengetahui sekaligus menghapus kemungkinan adanya kondisi lain yang berpotensi menyebabkan gejala yang dialami pasien.

Beberapa Cara Mengatasi Alergi Obat

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi reaksi alergi obat yang muncul, di antaranya:

1. Mengenali obat pemicu alergi

Ini merupakan salah satu langkah penting untuk mengatasi alergi obat yang Anda alami dan mencegah Anda dari reaksi alergi yang mungkin muncul kembali di kemudian hari.

Pada dasarnya, hampir semua obat berisiko menimbulkan reaksi alergi. Namun, ada beberapa jenis obat yang cenderung lebih sering memicu reaksi alergi, antara lain:

  • Antibiotik (contohnya Penisilin).
  • Anti-radang (antiinflamasi) nonsteroid.
  • Aspirin.
  • Krim atau losion kortikosteroid.
  • Anti-kejang (antikonvulsan).
  • Obat-obatan penyakit autoimun.
  • Obat-obatan herbal.
  • Insulin.
  • Vaksin.
  • Obat-obatan hipertiroidisme.
  • Obat-obatan kemoterapi.
  • Obat-obatan infeksi HIV dan AIDS.
  • Produk bee pollen.
  • Bahan kontras yang digunakan pada tes pencitraan (radiocontrast media).
  • Opiat untuk mengatasi rasa sakit.
  • Obat bius (anestesia).

2. Menghentikan penggunaan obat pemicu alergi

Setelah obat yang menjadi pemicu alergi diketahui, segera hentikan pemakaian obat tersebut dan hindari penggunaannya kembali di kemudian hari.

Jika Anda tidak yakin terhadap obat apa yang menjadi pemicu alergi obat, cobalah untuk mengingat dan mencatat semua obat-obatan dan suplemen, termasuk pengobatan herba, yang Anda konsumsi dalam jangka waktu 24–48 jam terakhir.

Setelah itu, Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter dan bawa catatan tersebut agar dokter dapat membantu mengidentifikasi obat mana yang memicu reaksi alergi di tubuh Anda.

3. Melakukan perawatan di rumah

Jika gejala yang muncul tergolong ringan, Anda bisa melakukan berbagai cara mengatasi alergi obat, di antaranya dengan mandi air dingin, memberi kompres dingin atau mengoleskan losion calamine pada kulit atau area tubuh yang terasa gatal dan muncul ruam, serta konsumsi obat antihistamin.

4. Mengonsumsi obat pereda alergi

Reaksi alergi ringan umumnya bisa mereda dengan sendirinya dalam waktu beberapa jam atau hari. Kondisi ini juga biasanya dapat diatasi dengan pengobatan di rumah.

Akan tetapi, gejala alergi obat yang muncul terkadang bisa parah atau tak kunjung menghilang. Jika Anda mengalami alergi obat yang demikian, Anda perlu segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Untuk mengatasi reaksi alergi obat yang parah, dokter dapat meresepkan obat-obatan berikut ini:

  • Obat antihistamin
    Ketika mengalami reaksi alergi, tubuh Anda akan menghasilkan zat pemicu reaksi alergi yang dinamakan histamin. Zat ini bisa muncul ketika Anda terpapar dengan zat pemicu alergi, termasuk makanan, debu, hingga obat-obatan.
    Untuk mengatasi reaksi alergi tersebut, dokter dapat meresepkan obat antihistamin. Obat ini sering digunakan untuk mengatasi alergi ringan hingga sedang atau alergi yang menimbulkan keluhan gatal dan ruam kulit yang parah.
  • Obat kortikosteroid
    Alergi obat dapat memicu terjadinya peradangan dan pembengkakan di tubuh. Hal ini bisa menimbulkan gejala berupa hidung tersumbat, pilek, hingga sesak napas. Selain itu, pembengkakan juga bisa terjadi di bagian tubuh lain, misalnya wajah, bibir, dan selaput mata yang menyebabkan mata merah dan berair.
    Untuk meredakan peradangan yang terjadi akibat alergi obat, dokter dapat meresepkan obat kortikosteroid. Obat kortikosteroid tersedia dalam bentuk obat minum, obat oles, obat tetes mata, hingga obat hirup atau inhaler.
  • Obat bronkodilator
    Reaksi alergi obat bisa menimbulkan sesak napas. Pada penderita asma, reaksi alergi bisa memicu gejala asma kambuh. Untuk mengatasi kondisi tersebut, dokter dapat meresepkan obat bronkodilator.
    Obat ini akan membantu melebarkan saluran pernapasan sehingga bernapas akan menjadi lebih mudah. Bronkodilator tersedia dalam bentuk cair dan bubuk untuk digunakan dalam inhaler atau nebulizer.
  • Suntikan epinephrine
    Suntikan epinephrine umumnya digunakan untuk mengatasi reaksi alergi obat yang parah (anafilaksis). Anafilaksis ditandai dengan gejala lemas, kesemutan, sesak napas, jantung berdebar kencang, dan pingsan.
    Kondisi ini perlu segera ditangani karena berisiko menyebabkan komplikasi yang parah dan bahkan kematian.

5. Terapi desensitisasi

Terapi ini mungkin akan dilakukan juga Anda memiliki alergi terhadap obat-obatan tertentu yang perlu dikonsumsi dalam jangka panjang. Terapi ini bertujuan untuk mengurangi risiko gejala alergi kambuh kembali di kemudian hari.

Terapi desensitisasi dilakukan dengan cara memberikan obat atau zat pemicu alergi ke dalam tubuh dengan jumlah kecil, lalu dosisnya ditingkatkan secara bertahap hingga tubuh penderita dapat mengenal dan menoleransi obat tersebut.

Bila Anda memiliki riwayat alergi obat, jangan lupa untuk mencatat jenis obat saja yang menimbulkan reaksi alergi. Tujuannya agar Anda dapat memberi tahu dokter atau petugas kesehatan mengenai riwayat alergi obat sebelum menjalani penanganan medis apa pun.

Jika Anda tidak mengetahui obat-obatan apa saja yang dapat memicu reaksi alergi, Anda bisa berkonsultasi ke dokter untuk menjalani pemeriksaan. Untuk menentukan pemicu alergi, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk menjalani tes alergi.

Saat mengalami reaksi alergi obat, cobalah untuk tidak panik dan segera hentikan semua obat-obatan yang Anda konsumsi. Jika gejala yang muncul tak kunjung membaik, segera ke dokter agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Pengobatan Alergi Obat

Tujuan penanganan Alergi Obat adalah untuk mengatasi dan meredakan gejala-gejala yang dialami. Terkadang reaksi alergi akan hilang sendiri saat penggunaan obat dihentikan, namun ada juga yang membutuhkan pengobatan untuk meredakan reaksi alergi tersebut.

Di bawah ini adalah beberapa obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengobati reaksi Alergi Obat:

  • Obat golongan antihistamin, untuk menghambat produksi histamin sehingga keluhan dan gejala bisa mereda.
  • Obat golongan kortikosteroid oral atau suntik, untuk menangani peradangan reaksi alergi.
  • Suntikan epinephrine, untuk mengatasi anafilaksis.

Jika mengalami anafilaksis, penderita perlu segera mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Jika sudah dipastikan jenis obat yang memicu alergi, dokter akan melakukan prosedur desensitisasi. Prosedur ini dilakukan dengan memberikan obat pemicu alergi dengan dosis kecil sambil dipantau munculnya gejala. Dosis akan ditingkatkan tiap beberapa menit, jam, atau hari hingga mencapai dosis yang diperlukan.

Komplikasi Alergi Obat

Komplikasi yang dapat terjadi akibat reaksi alergi yang parah adalah anafilaksis. Syok anafilaksis ini akan menyebabkan gangguan pada beberapa organ yang mengatur sistem tubuh. Gejalanya dapat berupa:

  • Kesulitan bernapas akibat menyempitnya saluran pernapasan atau tenggorokan.
  • Penurunan tekanan darah.
  • Mual, muntah, kram perut, atau diare.
  • Denyut nadi terasa lambat atau cepat.
  • Kejang.
  • Pingsan.

Selain syok anafilaksis, kondisi lain yang dapat timbul jika Alergi Obat tidak segera ditangani adalah peradangan ginjal akut akibat obat (acute intestitial allergic nephritis). Kondisi ini bisa menyebabkan munculnya darah di urine, demam, pembengkakan di beberapa bagian tubuh, dan penurunan kesadaran.

Pencegahan Alergi Obat

Langkah utama untuk mencegah Alergi Obat adalah menghindari obat yang menjadi pemicu alergi, misalnya dengan:

  • Mengenakan gelang atau kalung yang menandakan Anda alergi terhadap obat-obatan tertentu.
  • Memberi tahu dokter atau tenaga medis bahwa Anda alergi terhadap jenis obat tertentu, sebelum menjalani pengobatan atau tindakan medis.

Sumber : https://www.alodokter.com/alergi-obat