Craniosynostosis Pada Bayi

Craniosynostosis adalah kondisi cacat lahir ketika ubun-ubun menutup lebih cepat (prematur), antara sutura pada tengkorak. Akibatnya, kepala bayi berkembang dengan tidak normal dan menyebabkan bentuk kepala bayi tampak tidak sempurna.

Tengkorak manusia pada dasarnya dibentuk dari beberapa tulang, di mana antar tulang dipisahkan oleh sutura, yaitu jaringan elastik yang kuat. Pada masa pertumbuhan, sutura dibutuhkan agar tengkorak fleksibel mengikuti perkembangan otak bayi. Seiring perkembangan, sutura akan menutup dan pada orang dewasa menghasilkan tulang tengkorak yang keras.

Craniosynostosis dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

  • Metopic. Craniosynostosis metopic menyebabkan dahi membentuk segitiga di mana bagian belakang kepala akan melebar.
  • Sagittal. Craniosynostosis sagittal akan membuat kepala tumbuh memanjang dan pipih.
  • Coronal. Craniosynostosis coronal membuat bentuk dahi tidak seimbang. Pada bagian yang mengalami kelainan akan terlihat rata dan menonjol di bagian yang tidak mengalami kelainan.
  • Lambdoid. Craniosynostosis lambdoid menyebabkan sebagian sisi kepala terlihat datar. Pada beberapa kasus, posisi salah satu telinga juga akan terlihat lebih tinggi.

Gejala Craniosynostosis

Tanda-tanda Craniosynostosis biasanya sudah tampak saat bayi lahir, dan makin terlihat jelas setelah beberapa bulan. Tanda-tanda tersebut antara lain:

  • Ubun-ubun atau bagian lunak di kepala bayi tidak terasa.
  • Dahi terlihat seperti segitiga, dengan bagian belakang kepala yang lebar.
  • Bentuk dahi yang sebagian rata dan sebagian lagi tampak menonjol.
  • Posisi salah satu telinga lebih tinggi dari telinga yang lain.
  • Bentuk kepala bayi yang lebih kecil daripada bayi seusianya.
  • Bentuk kepala yang abnormal, misalnya memanjang dan pipih, atau terlihat datar di salah satu sisi.

Penyebab dan Faktor Risiko Craniosynostosis

Belum diketahui apa yang menyebabkan Craniosynostosis , tetapi kondisi ini diduga terkait dengan faktor genetik dan lingkungan. Craniosynostosis juga diduga dipicu oleh kondisi yang dapat memengaruhi perkembangan tengkorak anak, seperti sindrom Apert, sindrom Pfeiffer, dan sindrom Crouzon.

Risiko bayi menderita Craniosynostosis akan lebih tinggi pada wanita yang menderita penyakit tiroid atau menjalani pengobatan penyakit tiroid dalam masa kehamilan. Risiko yang sama juga bisa dialami oleh wanita yang menggunakan obat penyubur kandungan, seperti clomifen, sebelum hamil.

Diagnosis Craniosynostosis

Guna memastikan Craniosynostosis , dokter akan menjalankan pemeriksaan berikut ini:

  • Pemeriksaan kepala bayi dengan memeriksa ubun-ubun dan kelainan pada kepala.
  • Pencitraan dengan CT scan untuk melihat tulang tengkorak lebih detail.
  • Tes genetik untuk menentukan kelainan genetik yang dicurigai menjadi penyebabnya.

Pengobatan Craniosynostosis

Craniosynostosis dengan tingkat keparahan ringan atau sedang tidak membutuhkan pengobatan khusus. Dokter akan menyarankan pasien untuk menggunakan helm khusus, untuk memperbaiki bentuk tengkorak dan membantu perkembangan otak. Namun, kebanyakan kasus Craniosynostosis yang serius ditangani dengan operasi.

Operasi untuk Craniosynostosis tergantung pada tingkat keparahan Craniosynostosis dan apakah terdapat kelainan genetik yang mendasarinya. Tujuan operasi adalah untuk mengurangi dan mencegah munculnya tekanan pada otak, membuat ruang di tengkorak agar otak bisa berkembang, dan memperbaiki bentuk tengkorak.

Ada dua jenis operasi yang bisa dilakukan untuk menangani Craniosynostosis , yaitu:

  • Bedah Endoskopi, yang umumnya dilakukan pada bayi yang berusia di bawa enam bulan. Namun pembedahan ini hanya bisa dilakukan jika hanya satu sutura saja yang bermasalah.
  • Bedah Terbuka, yang dilakukan pada bayi berusia di atas enam bulan. Pembedahan ini dapat membantu memperbaiki bentuk tulang tengkorak yang tidak proporsional.

Komplikasi Craniosynostosis

Craniosynostosis ringan yang dibiarkan tanpa pengobatan dapat menyebabkan perubahan bentuk kepala dan wajah secara permanen. Akibatnya, penderita Craniosynostosis merasa malu untuk berbaur dengan masyarakat.

Penderita Craniosynostosis parah berisiko mengalami peningkatan tekanan intrakranial (tekanan di dalam rongga kepala). Jika tidak ditangani, peningkatan tekanan intrakranial bisa memicu kondisi serius berikut:

  • Gangguan perkembangan
  • Gangguan gerakan bola mata
  • Gangguan kognitif (belajar dan berpikir)
  • Kejang
  • Kebutaan

Sumber : https://www.alodokter.com/craniosynostosis