Berikut Cara Mengatasi Trauma Pada Anak Sesuai Usianya

Berikut Cara Mengatasi Trauma Pada Anak Sesuai Usianya

Berikut Cara Mengatasi Trauma Pada Anak Sesuai Usianya – Trauma psikologis adalah kondisi yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa buruk yang menimpa diri seseorang. Setiap orang bisa mengalami trauma setelah menghadapi suatu peristiwa menakutkan. Namun, pada anak, jika mereka mengalami peristiwa traumatis, mereka akan lebih membutuhkan dukungan orang dewasa segera setelah peristiwa traumatis tersebut.

Saat mengalami trauma, Anda mungkin juga akan tersiksa dengan emosi, ingatan, dan kecemasan yang mengingatkan kepada peristiwa tersebut, hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. eaksi terhadap peristiwa traumatis tidak selalu terjadi saat itu juga, kadang bisa terjadi beberapa saat atau lama setelahnya.

Itulah sebabnya anak-anak butuh dukungan pada hari-hari dan minggu-minggu atau bulan-bulan sesudah mengalami peristiwa traumatis.  Anak-anak dari segala usia membutuhkan bantuan untuk mengatasi dan pulih dari peristiwa traumatis pada hari-hari dan minggu-minggu sesudahnya.

1. Cara membantu anak usia 0-2 tahun
Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!

Bayi akan bereaksi sesuai dengan emosi orang di sekitarnya. Jika kamu tetap tenang, bayi juga akan merasa aman. Sebaliknya, jika kamu panik, bayi lebih mungkin menjadi rewel, sulit ditenangkan, susah makan dan tidur, serta bertindak menarik diri.

Berikut ini hal yang dapat kamu lakukan untuk membantu anak usia 0-2 tahun dalam menghadapi peristiwa traumatis:

  • Sebisa mungkin tetaplah bertindak tenang. Bahkan, meskipun kamu merasa cemas, bicaralah dengan bayi dengan suara yang menenangkan.
  • Tetap penuhi kebutuhan bayi secara konsisten. Misalnya, jika bayi masih mendapatkan ASI, maka ibu tetap harus menyusui. Ini penting agar bayi tetap sehat dan terhubung dengan ibu atau orang yang mengasuhnya.
  • Tatap mata bayi, tersenyumlah padanya, dan berikan sentuhan. Kontak mata, sentuhan, dan kehadiran ibu membantu menjaga keseimbangan emosi bayi.
2. Cara membantu anak usia 2-5 tahun
Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!

Setelah peristiwa traumatis, anak-anak pada usia ini mungkin tidak mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata. Beberapa anak mungkin mengungkapkan perasaan melalui permainan atau perilaku seperti tantrum.

Anak-anak dalam kelompok usia ini mungkin juga kurang bermain atau kreatif setelah peristiwa traumatis. Mereka juga biasanya merespons situasi sesuai dengan bagaimana reaksi orangtua.

Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk membantu anak di usia ini merasa lebih baik setelah mengalami peristiwa traumatis:

  • Buat anak merasa aman dengan menyentuh dan memeluk anak sesering mungkin. Katakan kepadanya bahwa kamu ada bersamanya dan akan menjaganya.
  • Pertahankan rutinitas sebisa mungkin. Cobalah untuk melakukan hal-hal yang selalu kamu lakukan dengan anak-anak, seperti bangun dan tidur di jam yang sama, makan tepat waktu, berdoa, dan sebagainya.
  • Jika anak menunjukkan tingkah yang tidak biasa, itu mungkin pertanda bahwa anak membutuhkan perhatian ekstra. Jelaskan bahwa ia boleh merasa sedih, marah, takut, tetapi tidak boleh melampiaskannya secara negatif, seperti memukul orang lain atau merusak barang. Lalu, tunjukkan kepadanya cara berperilaku yang benar.
  • Libatkan anak dalam kegiatan. Distraksi adalah hal yang baik untuk anak-anak pada usia ini.
  • Bicara tentang hal-hal yang berjalan dengan baik. Bahkan di saat-saat yang paling sulit, penting untuk mengidentifikasi sesuatu yang positif untuk membantu anak pulih.
  • Jika kebiasaan buruk di masa lalu, seperti mengisap jempol atau mengompol kembali muncul, ingatlah bahwa ini normal. Kebiasaan ini akan hilang saat anak merasa aman kembali. Jadi, tidak perlu memarahinya.
3. Cara membantu anak usia 6-11 tahun
Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!

Anak-anak usia 6-11 tahun mungkin merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan mengalami kesulitan berkonsentrasi di sekolah.

Anak-anak dalam kelompok usia ini lebih mampu berbicara tentang pikiran dan perasaan mereka serta dapat menangani kesulitan dengan lebih baik, tetapi masih membutuhkan orang dewasa untuk memberikan kenyamanan dan bimbingan. Saat mengalami hal-hal yang mengerikan, melihat fakta bahwa orangtua masih ada mungkin menjadi hal yang paling menenangkan bagi mereka.

Kunci penting untuk membantu menghadapi trauma adalah dengan mendengarkan mereka. Selain itu, kamu juga dapat membantu mereka lewat cara berikut:

  • Anak-anak kelompok usia ini dapat dihibur oleh fakta, jadi yakinkan anak bahwa dia aman. Orangtua tidak perlu takut mengucapkan kata-kata nyata, seperti angin topan, gempa bumi, banjir, gempa susulan karena untuk anak-anak usia ini, pengetahuan memberdayakan dan membantu menghilangkan kecemasan.
  • Pertahankan hal-hal senormal mungkin. Rutinitas waktu tidur dan makan membantu anak-anak merasa aman dan terlindungi.
  • Batasi paparan ke TV, surat kabar, dan radio. Makin banyak anak usia sekolah terpapar berita buruk, mereka akan makin khawatir.
  • Jika anak berperilaku dengan cara yang menantang, tanyakan mengapa mereka bertindak seperti itu dan bantu mereka menemukan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya.
  • Jika anak merasakan sakit kepala atau sakit perut, bantu anak merawat dirinya sendiri dengan minum air, obat, dan istirahat. Jika masalahnya tidak kunjung hilang, ada baiknya memeriksakan anak ke dokter.
  • Jika anak menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, yakinkan mereka bahwa mereka bukanlah menyebabkan peristiwa tersebut dan tidak ada yang menyalahkan mereka untuk itu.
  • Dorong anak untuk memikirkan semua hal baik yang mereka dan orang lain lakukan untuk tetap aman. Ini akan membantu mereka merasa kuat dan berdaya.
  • Jika anak terus menghidupkan kembali peristiwa itu melalui permainan atau gambar, pandu permainan, menggambar, atau cerita mereka dengan lembut ke hal-hal lain.
4. Cara membantu anak usia 12-18 tahun
Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!

Masa remaja adalah masa yang penuh tantangan bagi banyak orang karena mereka mengalami begitu banyak perubahan dalam hidupnya. Remaja berjuang untuk menjadi lebih mandiri dan punya kecenderungan untuk merasa tidak ada yang dapat membahayakan mereka.

Peristiwa traumatis dapat membuat remaja merasa di luar kendali. Mereka juga akan merasa kasihan pada orang yang terkena bencana dan memiliki keinginan kuat untuk mengetahui mengapa peristiwa itu terjadi.

Berikut adalah beberapa cara membantu remaja melalui peristiwa traumatis:

  • Buat anak merasa aman kembali. Meskipun mereka mungkin menolak pelukan dan sentuhan, tetapi sebenarnya ini dapat membantu mereka merasa aman.
  • Beri anak tugas dan tanggung jawab kecil dalam rumah, lalu pujilah mereka atas apa yang sudah mereka lakukan. Namun, jangan membebani remaja dengan terlalu banyak tanggung jawab.
  • Jika anak menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, beri tahu anak bahwa wajar jika merasa seperti ini, tetapi bukan anak yang menyebabkan peristiwa tersebut.
  • Jika anak mengalami masalah di sekolah, bicarakan dengan anak dan guru tentang apa yang telah terjadi. Diskusikan dengan pihak sekolah apakah anak dapat menemui psikolog atau konselor sekolah.
  • Jika anak terburu-buru mengambil keputusan besar, seperti ingin meninggalkan sekolah, beri tahu anak bahwa yang terbaik adalah meninggalkan keputusan besar sampai ia merasa tenang.
  • Jika peristiwa traumatis ada dalam berita, bantu anak membatasi liputan media. Jelaskan bahwa melihat liputan peristiwa traumatis berulang kali dapat membuat anak merasa stres atau kesal.
5. Mencegah PTSD pada anak
Cara Mengatasi Trauma pada Anak Sesuai Usia, Orangtua Harus Tahu!

Mengalami trauma tidak selalu menyebabkan posttraumatic stress disorder (PTSD) gangguan stres pascatrauma. Bahkan, sebagian besar anak-anak dan remaja yang mengalami trauma tidak mengembangkan PTSD. Namun, PTSD dapat berkembang saat anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi trauma yang dialaminya.

Menurut penjelasan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), tidak diketahui secara pasti mengapa beberapa anak mengalami PTSD setelah mengalami peristiwa stres dan traumatis, sedangkan yang lainnya tidak.