Ankylosing Spondylitis

Ankylosing Spondylitis atau Spondilitis Ankilosa merupakan penyakit peradangan kronis yang menyerang tulang belakang dan bagian sendi tubuh lainnya. Kondisi ini biasanya terjadi pada saat usia remaja belasan tahun atau saat dewasa muda. Penyakit peradangan sendi ini tiga kali lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita. Gangguan ini dapat membuat penderita ankylosing spondylitis menjadi bungkuk

Tulang belakang terdiri dari beberapa ruas tulang yang dihubungkan oleh bantalan tulang yang lunak. Pada penderita ankylosing spondylitis, celah bantalan melebur menjadi tulang, sehingga tulang belakang hilang kelenturannya. Kondisi ini akan mengubah postur tubuh penderitanya.

Gejala ankylosing spondylitis berkembang secara bertahap dalam hitungan bulan hingga tahun, serta lebih sering menyerang pria daripada wanita. Hingga saat ini belum ada jenis pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan hanya untuk memperbaiki gejala yang timbul dan mencegah keparahan penyakit tersebut.

Gejala Ankylosing Spondylitis

Gejala ankylosing spondylitis bervariasi, tergantung pada sendi tubuh yang meradang. Gejala biasanya terjadi secara bertahap dan dalam waktu beberapa bulan bahkan tahun. Gejala dapat muncul dan menghilang, membaik, dan memburuk seiring dengan waktu.

Tanda-tanda yang terjadi meliputi:

  • Nyeri Punggung dan Kaku
    Keluhan nyeri punggung dan kaku merupakan gejala utama ankylosing spondylitis. Nyeri dapat membaik dengan olahraga namun dapat memburuk ketika istirahat. Nyeri juga terasa lebih parah saat pagi dan malam hari, dan bisa dirasakan hingga ke bokong.
  • Nyeri dan Bengkak Pada Sendi Tubuh Lainnya
    Peradangan pada sendi bisa terjadi pada tulang belakang. Tetapi nyeri dan bengkak akibat peradangan juga dapat terjadi pada sendi lain seperti pinggul dan lutut. Nyeri akan lebih terasakan ketika sedang menggerakkan sendi-sendi tersebut. Sendi yang terkena juga dapat terasa hangat.
  • Kelelahan
    Penderita akan sering mengalami kelelahan dan tidak berenergi terutama jika penyakit tidak diatasi

Nyeri tersebut lebih terasa saat bangun tidur atau setelah penderita diam dalam waktu yang lama.

Gejala nyeri ini dapat hilang dan muncul dalam periode-periode tertentu selama berberapa bulan hingga beberapa tahun. Bila tidak tertangani, penyakit ankylosing spondylitis dapat mengubah postur tubuh penderitanya menjadi lebih bungkuk.

Selain nyeri dan perubahan postur tubuh, penderita ankylosing spondylitis juga dapat merasakan gejala berikut:

  • Demam.
  • Merasa mudah lelah.
  • Nyeri lutut.
  • Peradangan pada jari-jari.
  • Diare dan sakit perut.
  • Kulit kemerahan dan bersisik, serta terasa gatal.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kesulitan bernapas.

Kapan harus ke dokter

Anda dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter jika merasakan gejala awal dari ankylosing spondylitis berupa nyeri pada area di sekitar tulang belakang yang berkepanjangan dan hilang timbul.

Penderita ankylosing spondylitis perlu menjalani pemeriksaan secara rutin ke dokter untuk mengetahui perkembangan dari penyakit yang diderita. Umumnya, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan prosedur pemindaian dan tes darah.

Penyebab Ankylosing Spondylitis

Penyebab ankylosing spondylitis belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi, ankylosing spondylitis diduga berhubungan dengan kelainan gen, yaitu gen HLA-B27. Meski demikian, bukan berarti seseorang yang memiliki kelainan gen HLA-B27 pasti akan terkena ankylosing spondylitis.

Dari sepuluh penderita ankylosing spondylitis, sembilan penderita memiliki gen HLA-B27. Namun, bukan berarti mereka yang memiliki gen HLA-B27 dengan sendirinya mengalami ankylosing spondylitis. Kira-kira delapan dari seratus orang populasi normal memiliki gen tersebut.

Jika seseorang mengalami penyakit ankylosing spondylitis dan memiliki gen hLA-B27, risiko keturunannya juga mengidap penyakit tersebut bisa mencapai 20 persen. Jika seseorang memiliki penyakit ankylosing spondylitis namun tidak memiliki gen HLA-B27, risiko keturunannya mengidap penyakit tersebut juga akan lebih kecil dari 10 persen.

Kemungkinan seseorang terkena penyakit ankylosing spondylitis meningkat sampai tiga kali lipat jika orang tua atau saudaranya mengalami penyakit tersebut. Terjadinya penyakit ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Diagnosis Ankylosing Spondylitis

Untuk mendiagnosis ankylosing spondylitis, dokter akan menanyakan gejala yang dialami penderita dan riwayat kesehatannya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa peradangan pada sendi atau penurunan fleksibilitas gerakan punggung.

Selanjutnya, dokter akan meminta pasien menjalani pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemindaian, untuk memeriksa kondisi tulang belakang atau tulang lainnya, misalnya tulang panggul. Pemindaian dilakukan dengan foto Rontgen, CT scan, atau MRI.
  • Pemeriksaan genetik, untuk memeriksa apakah pasien memiliki gen HLA-B27.
  • Pemeriksaan darah, untuk melihat tanda-tanda peradangan yang terjadi di bagian tubuh tertentu.

Pengobatan Ankylosing Spondylitis

Tidak ada penanganan khusus untuk mengobati ankylosing spondylitis. Langkah penanganan lebih bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, memperbaiki kelainan pada postur tubuh, mencegah terjadinya komplikasi, dan membantu pasien untuk kembali beraktivitas secara normal.

Pengobatan yang dapat dilakukan untuk menangani ankylosing spondylitis adalah:

  • Obat-obatan
    Obat digunakan untuk meredakan peradangan dan rasa nyeri. Jenis obat yang digunakan adalah obat anti-nyeri, obat anti-tumor necrosis factos (TNF) dan lainnya.
  • Fisioterapi
    Terapi fisik meliputi pijat dan manipulasi otot lainnya agar bisa memperbaiki kenyamanan dan fleksibilitas tulang belakang.
  • Pembedahan
    Terapi pembedahan bisa diperlukan untuk memperbaiki sendi yang mengalami kerusakan parah. Pembedahan juga bisa dilakukan pada kasus tulang belakang yang mengalami kemiringan yang cukup parah.
  • Olahraga
    Olahraga penting dilakukan secara benar dan teratur untuk mengurangi nyeri dan kekakuan sendi.

Komplikasi Ankylosing Spondylitis

Jika sudah parah, ankylosing spondylitis dapat menyebabkan tertutupnya celah di antara ruas tulang belakang dengan pertumbuhan tulang yang baru. Hal itu membuat bagian tulang belakang menjadi kaku dan mengubah postur tubuh penderitanya menjadi lebih bungkuk.

Beberapa komplikasi yang dapat ditimbulkan karena ankylosing spondylitis adalah:

  • Patah tulang belakang
    Ankylosing Spondylitis dapat menyebabkan osteoporosis, sehingga tulang menjadi lemah dan rapuh dan meningkatkan risiko patah tulang belakang.
  • Radang mata (iritis)
    Peradangan pada penderita ankylosing spondylitis juga dapat terjadi pada mata. Kondisi yang dikenal juga sebagai uveitis ini menyebabkan mata lebih sensitif terhadap cahaya, sakit, dan pandangan menjadi kabur.
  • Gangguan jantung
    Ankylosing Spondylitis dapat menimbulkan peradangan juga pada pembuluh darah besar hingga akhirnya menimbulkan penyakit jantung.
  • Sindrom cauda equina
    Kondisi ini menimbulkan rasa sakit di bokong dan panggul, tungkai terasa lemas, sulit berjalan, serta inkontinensia urin dan inkontinensia tinja. Sindrom cauda equina terjadi akibat penekanan pada ujung saraf tulang belakang.

Pencegahan Ankylosing Spondylitis

Penyakit ankylosing spondylitis masih sulit untuk dicegah karena penyebab pastinya masih tidak diketahui. Pengobatan dapat mencegah agar penyakit tidak semakin memburuk. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah akibat ankylosing spondylitis, di antaranya:

  • Hindari alkohol untuk menjaga agar tulang tetap kuat.
  • Cukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D melalui makanan atau suplemen.
  • Berolahraga secara rutin setiap hari.
  • Gunakan sepatu dengan ukuran yang pas agar tidak mudah jatuh.
  • Duduk dan berdiri dengan tegak, serta tidur dengan bantal yang tidak terlalu tinggi.
  • Hindari kebiasaan merokok.

Sumber : https://www.alodokter.com/ankylosing-spondylitis